DPP Bidang II - Persaudaraan

By david

Susunan Pengurus periode 2009-2012

Ketua Bidang II {Persaudaraan} Ibu Francisca Hani (Keken)
Anggota Bidang II {Persaudaraan} Ibu Rosa de Lima E.P.
Anggota Bidang II {Persaudaraan} Bpk. T. Budijawan
Ketua Seksi Lingkungan Ibu M.L. Marlies
Pendamping /Sekretaris Seksi Lingkungan Ibu Anastasia
Ketua Lingk. “St Maria” Ibu Elsye Marlina
Ketua Lingk. “St Elizabeth” Ibu Flora Sapu Sempang
Ketua Lingk. “St Yosef” Ibu Sisilia Titin Sunarti
Ketua Lingk. “St Agustinus” Ibu Kimijati
Ketua Lingk. “St Ignatius” Ibu Tina Handayani
Ketua Lingk. “St Antonius” Bpk. Yustinus Maryoto
Ketua Lingk. “St Theresia” Ibu Franciska Wibowo
Ketua Lingk. “St Gabriel” Bpk. Ignatius Lie Suyanto
Ketua Lingk. "St. Gerardus" Bpk. Franciscus Iwan T.
Ketua Lingk. “St Monica” Ibu M.M. Yenny Hendrawan
Ketua Lingk. “St Kristoforus” Ibu Frida Anggraeni C.
Ketua Lingk. “St Stefanus” Ibu Rosa Wulandari W.
Ketua Lingk. “St Martinus” Ibu Ika Sukmawati
Ketua Lingk. “St Carolus” Ibu Christina Yunita E.
Ketua Lingk. “St Borromeus” Ibu A. Felicia Ratna Intan
Ketua Lingk. “St Mikael” Bpk. Petrus Naryono
Ketua Lingk. “St Rafael” Ibu M.A. Tukilah
Ketua Lingk. "Serafim" Bpk. Antonius Dwi Ananto
Ketua Lingk. “Kerubim" Ibu M.M. Meinarti Kusmali
Ketua Seksi Keluarga Pasutri P. Hardiyono & Y.M. Hartini
Pendamping / Anggota Seksi Keluarga Pasutri F. Susanto - Jeanette Handojo
Pendamping / Anggota Seksi Keluarga Pasutri Antonius Karyanto Karsono - Mariana Santi
Ketua SubSeksi Kursus Persiapan Perkawinan "Paduan Kasih" Pasutri Ign. Sani Sanusi - Serafina Ina
Anggota SubSeksi Kursus Persiapan Perkawinan "Paduan Kasih" Pasutri Santosa - Veronika Yanny
Ketua SubSeksi Konsultasi Perkawinan Pasutri Sigit Basuki - Irene W.
Ketua SubSeksi Kelompok Umat Lanjut Usia  
Ketua Seksi Kepemudaan Sdr. Andy Hartanto
Pendamping Seksi Kepemudaan Sdr. Vincentius Arnold
Pendamping Seksi Kepemudaan Sdr. Michael Frank
Ketua Seksi Kategorial, Biara, Tarekat {KaBiTa} Sdr. Franciscus Wahyu P.A.
Anggota "KaBiTa" Sdr. Cresentia Chrestella
Anggota "KaBiTa" Sdri. Stefanie Megawati

 

LEGIO MARIA

Legio Maria adalah persekutuan orang-orang Katolik dengan restu Gereja dan di bawah pimpinan Bunda Maria yang dikandung tanpa noda, Pengantara Segala Rahmat. Legio Maria pertama kali berdiri pada tanggal 7 September 1921, menjelang pesta kelahiran Bunda Maria di Myra House, Francis Street, Dublin, Irlandia dan pendirinya adalah Francis Duff. Legio Maria didirikan dengan tujuan untuk permuliaan Tuhan, melalui pengudusan para anggotanya dengan doa dan kerjasama yang aktif, di bawah pimpinan Gereja, dalam tugas Bunda Maria dan Gereja untuk menghancurkan kepala ular dan meluaskan Kerajaan Kristus.
Lahirnya kelompok Legio Maria di Paroki Katedral St. Petrus Bandung diawali dengan kedatangan seorang utusan Legio Maria dari Dublin pada tahun 1956. Dia adalah seorang wanita Hongkong yang bernama Teresa Su. Pada mulanya, beliau memperkenalkan Legio Maria melalui suatu ceramah yang dihadiri oleh para mahasiswa dan juga Pastor H. van Haaren, OSC (alm.). Dia adalah orang yang istimewa karena secara fisik, orangnya kecil, kerempeng, sekilas kelihatannya seperti orang menderita kurang gizi, tetapi semangatnya minta ampun.
Selesai ceramah dan tanya-jawab, hadirin diundang untuk pertemuan berikutnya pada tanggal 4 April 1956. Tidak banyak orang yang tertarik dengan
tawarannya itu dan motivasi peserta yang hadir hanya ingin melihat sosok Teresa Su. Sampai tiba saatnya pertemuan kedua, yang hadir hanya enam orang. Namun, rencana Tuhan memang ajaib, ternyata itulah hari terbentuknya presidium yang pertama dan semua merasa sangat terkejut dengan tindakan Teresa Su yang langsung meminta hadirin untuk berlutut dan mulai berdoa. Presidium pertama itu diberi nama Santa Perawan Pembantu Abadi (SPPA), salah satu gelar Bunda Maria yang sangat populer di Polandia. Pembimbing rohani yang pertama ialah Pastor F. Lubbers, OSC
dan beliau sangat rajin berkeliling ke paroki-paroki untuk memperkenalkan Legio Maria dan membentuk presidium-presidium baru.

Sejak semula Mgr. P.M. Arntz, OSC (alm.) juga sangat mendukung dan memberi izin kepada Teresa Su untuk memulai Legio Maria di Keuskupan Bandung, Beliau juga menjadi pendorong dan pemberi semangat kepada para legioner dalam bentuk, antara lain: selalu memimpin Perayaan Acies setiap tahunnya dan menghadiri rapat Komisium pada bulan-bulan permulaan. Pada saat ini, Legio Maria di Paroki Katedral ada sembilan presidium yang terdiri atas enam presidium senior, satu presidium senior karyawan dan dua presidium yunior. Selain Presidium SPPA, ada enam presidium senior lainnya sebagai saudarasaudaranya, yaitu:
. RPSI (Ratu Para Saksi Iman)
. RPPI (Ratu Para Pengaku Iman)
. MA (Mater Amabilis)
. PK (Putri Kerahiman)
. TK (Tahta Kebijaksanaan)
. BRH (Bunda Yang Rendah Hati)

Kemudian, presidium yunior adalah:
. SS (Sedes Sapiantiae)
. BRI (Bunda Rahmat Ilahi)
Acara-acara yang ada dalam Legio Maria, yaitu: Acies, Patrisi, dan Kursus Legio. Dalam tugasnya seorang legioner dapat berkunjung ke rumah sakit, panti orang cacat, rumah jompo, memberi pelajaran tambahan kepada anak-anak sekolah yang kurang mampu, serta kunjungan kepada anggota auksilier dan calon anggota baru. Kepada rekan-rekan mahasiswa/karyawan/pelajar yang tertarik dengan Legio Maria dapat bergabung bersama kami. Kami tunggu.

 

WANITA KATOLIK

Berdirinya Wanita Katolik Cabang Katedral St. Petrus merupakan kelanjutan dari terbentuknya DPD Jawa Barat Wanita Katolik RI (Keuskupan Bandung) pada tahun 1961 yang diketuai oleh Ibu Kartadilaga. Dalam masa kepemimpinan beliau lahirlah sejumlah DPC, antara lain: Pandu, Kebon Kelapa, dan Katedral. Namun, pada tahun 1964, pimpinan DPD beralih kepada Ibu Simadibrata.
Ini berarti kelompok Wanita Katolik RI di Paroki Katedral St. Petrus mulai terbentuk antara tahun 1961 – 1964, dengan ketua pertamanya adalah Ibu Nelly Tjiptohadi.

Sejak saat itu, Wanita Katolik RI Cabang Katedral St. Petrus telah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan, yaitu: Ibu Mary Adilukito, Ibu Ronosulistyo, Ibu Anni Soenarto, Ibu Nelly Rusli, Ibu Reina Tjiam, Ibu Lily Gunawan, dan yang terakhir Ibu Rini Argasetya (telah berakhir masa jabatannya tahun 2002).
Kelompok Wanita Katolik RI merupakan salah satu ormas yang beranggotakan wanita Katolik dengan usia minimal 18 tahun. Misi kegiatannya lebih
berorientasi pada kegiatan kemasyarakatan dan berusaha menjalin kerjasama dengan kelompok-kelompok lain di luar Gereja untuk mengusahakan kesejahteraan masyarakat. Jumlah anggota yang terdaftar berjumlah sekitar 300 orang, di mana sebagian besar adalah kelompok lanjut usia.

Kegiatan pelayanan DPC WKRI Katedral St. Petrus diwujudkan melalui beberapa bidang, antara lain:
1. Bidang Organisasi.
    • Rapat Pengurus setiap bulan pada hari Kamis kedua.
    • Rapat Pleno dan Rapat Kerja Daerah DPD WKRI Jawa Barat.
2. Bidang Kesejahteraan.
    • Setiap bulan memberikan bantuan dana untuk penyediaan makanan tambahan bagi balita dan bertugas di posyandu RW XI, XIII, XV Tamansari dan Tubagus Ismail.
    • Memberikan pelayanan di RS St. Borromeus dalam Program Kelompok Pendukung ASI, Penimbangan dan Pemijatan bayi.
    • Mengirimkan atensi Natal bagi anggota lanjut usia.
3. Bidang Pendidikan.
    • Menyelenggarakan acara ceramah, penyuluhan, demo masak/keterampilan untuk Pertemuan Anggota, ibu-ibu PKK, dan umum.
    • Menyelenggarakan kelas Bahasa Inggris, Belanda, Jepang, dan Mandarin.
4. Bidang Komunikasi dan Dokumentasi.
    • Menerbitkan buletin khusus untuk anggota, tiga bulan sekali.
    • Membuat dokumentasi kegiatan WKRI Cabang Katedral St. Petrus.
5. Bidang Hubungan Luar.
    • Menghadiri peringatan “Hari Lingkungan Hidup Sedunia” di Plaza Balai Kota Bandung.
    • Memberikan bantuan dana untuk anak jalanan dalam kegiatan “Kemah Alternatif Anak-anak Dampingan Yayasan Saman”.
    • Menghadiri peringatan 100 tahun Wiyata Guna.
6. Bidang Usaha.
    • Mengusahakan dana bagi kegiatan-kegiatan cabang antara lain dengan mengusahakan catering.

 

SERIKAT SOSIAL VINCENTIUS

Serikat Sosial Vincentius (SSV) adalah organisasi internasional kaum awam yang didirikan oleh Beato Frederic Ozanam dan kawan-kawan pada tahun 1833 di Paris, Perancis. Organisasi ini diilhami oleh karya dan pemikiran St. Vincentius á Paolo (santo pelindung) yang bertujuan untuk meringankan beban ekonomi bagi masyarakat yang kurang mampu. Organisasi ini mulai berdiri di Bandung pada tahun 1968 dan berkantor pusat di Katedral St. Petrus sebagai Dewan Daerah yang membawahi beberapa konferensi yang ada di Bandung dan sekitarnya, yaitu :

1. Konferensi Santo Petrus (Katedral)
2. Konferensi Santa Elisabeth (Melania)
3. Konferensi Santo Mikael (Waringin)
4. Konferensi Santo Yohanes Bosco
5. Konferensi Santo Ignatius (Cimahi)
6. Konferensi Santa Maria (Garut)
Secara struktural, SSV Bandung menginduk pada Dewan Nasional Serikat Sosial yang berkedudukan di Surabaya yang berdiri pada tahun 1965 dan Dewan Pusat seluruh dunia berada di Paris, Perancis. Dalam melaksanakan pelayanannya, SSV St. Petrus juga bekerja sama dengan Serikat Sosial yang berkedudukan di Australia. Pada saat ini, SSV St. Petrus dipimpin oleh J.F.H. Darmawan.

Tujuan kelompok ini sangat mulia, yaitu:
1. Mengkuduskan para anggotanya dengan mengembangkan cinta kasih kepada Tuhan dan sesama, yaitu dengan mengikuti teladan Yesus Kristus yang mencintai sesama.
2. Memberikan kebenaran tentang iman Kristiani.
3. Membangkitkan semangat kasih persaudaraan dengan cara berkumpul dalam pertemuan rutin.

Keanggotaan SSV juga sangat terbuka, yaitu:
1. Semua orang Katolik atau yang berjiwa katolik yang mau mewujudkan imannya dalam karya nyata.
2. Sanggup menjalankan semua ketentuan sesuai dengan pedoman SSV.
3. Memiliki semangat kerja sama dan persaudaraan sebagai bekal untuk melayani sesama.

Kelompok SSV memiliki beberapa bidang pelayanan, antara lain:
1. Bidang ekonomi: membantu peningkatan ekonomi keluarga yang kurang/tidak mampu, sehingga mereka akhirnya dapat mandiri.
2. Bidang kesehatan: membantu pengobatan dan perawatan keluarga yang sakit dan tidak mampu, serta menyadarkan akan arti dan pentingnya hidup sehat.
3. Bidang pendidikan: membantu pembiayaan sekolah bagi pelajar yang tidak mampu, tetapi masih memiliki semangat untuk meneruskan studi.
4. Bidang rohani: menunjukkan kasih setia Allah dalam bentuk perhatian kepada kaum miskin dan mengajak mereka menghayatinya dalam setiap langkah hidupnya.

Dalam mewujudkan karyanya, SSV tidak bergerak sendiri, tetapi menggalang kerja sama dengan kelompok-kelompok Katolik dan juga non-Katolik. Semuanya ini dilakukan dengan motto SSV: ‘SIAPA YANG MENYERAHKAN DIRI KEPADA TUHAN UNTUK MELAYANI KAUM MISKIN ADALAH ORANG YANG TERPILIH’ (Frederic Ozanam).

SSV St. Petrus memiliki kegiatan rutin, antara lain:
1. Rapat Anggota pada setiap Jumat ke-4 untuk mengelola dan merencanakan kelangsungan kegiatan organisasi.
2. Membuka kios murah pada setiap hari Jumat antara pk. 07.30 – 09.00 pagi yang menyediakan beberapa macam kebutuhan sehari-hari untuk meringankan beban ekonomi orang-orang kecil.
3. Memberikan bantuan dana pendidikan kepada beberapa anak asuh.

Selain kegiatan-kegiatan di atas, SSV St. Petrus juga telah melaksanakan beberapa programnya pada tahun 2000 yang lalu, antara lain:
1. Membiayai siswa/i yang ikut sekolah menjahit sampai selesai.
2. Membantu mengadakan peralatan untuk pemangkas rambut.
3. Memberikan bantuan modal kepada seorang pengusaha ayam petelor negeri.

 

COUPLE FOR CHRIST (CFC)

Couple For Christ (CFC) adalah organisasi internasional pasutri Katolik yang mendukung usaha keluarga kristiani untuk membangun suatu rumah tangga yang didasari iman kepada Allah dalam bimbingan Roh Kudus. Semuanya ini dilakukan demi terwujudnya ‘Gereja Rumah Tangga’ untuk
memperbaharui muka Bumi dalam karya Roh Kudus. Hal ini merupakan visi dari kelompok CFC.
Saat ini, CFC dipimpin oleh pasutri F.X. Kinanto Budiutomo H. – Emerita M.N.S. dan pastor moderatornya adalah Pst. Laurentius Tarpin, OSC. Dalam struktur organisasinya, CFC dibagi menjadi lima kelompok, yaitu: Kelompok Utara (I), Kelompok Tengah (II), Kelompok Selatan (III), Kelompok Timur (IV), dan Kelompok Lembang (V).

Kelompok CFC memiliki beberapa kegiatan, antara lain:
1. Pertemuan rutin bulanan dalam bentuk Ibadat Doa dan Pujian yang disertai juga dengan Renungan yang dibawakan oleh Pastor Moderator, Pastor tamu, atau awam.
2. Pertemuan kelompok masing-masing yang diadakan secara bergiliran di rumah anggota.
3. Mengadakan Retret Pengajaran, Seminar, Christian Life Program.

 

KOMUNITAS DOA MEDITASI TAIZÉ

Cikal bakal Komunitas Doa Meditasi Taizé di Indonesia, khususnya Bandung, dimulai pada saat pertemuan para Uskup se-Asia tahun 1990 di Lembang, Bandung. Atas permintaan Mgr. Alexander Djajasiswaja, Pr. dan alm. Mgr. Leo Soekoto, SJ, acara harian pertemuan tersebut setiap malam ditutup dengan Doa Meditasi Taizé. Maka dari itu, Br. Charles dari Komunitas Taizé Korea melatih beberapa frater dari Betang Batar (Praja Sintang), Novis Ursulin Supratman dan 4 awam (Pasutri Adi-Yulia, Bapak R. Husin Ismail dan Ibu Dien) untuk dapat menyelenggarakan Doa Meditasi Taizé yang khas itu.
Usai pertemuan para Uskup se-Asia itu, kelompok kecil itu tetap melanjutkan kebiasaan Doa Meditasi Taizé (DMT) setiap Jumat jam 18.00 di Asrama Providentia. Agar komunitas Taizé Indonesia dapat berkembang, maka setiap tahun Br. Ghislain dari Taizé datang ke Indonesia untuk memberikan pengarahan dan bimbingan.
Tahun 1992 DMT mulai dikembangkan di Paroki Katedral (dan Paroki Sukajadi). Saat itu, Paroki Katedral mendapat dukungan penuh dari Pst. A. Bogaartz, OSC yang ternyata juga memiliki kaset-kaset lagu Taizé. Kami mengadakan DMT setiap hari Kamis pk. 18.30 di Ruang Balai Pertemuan I. Kemudian, pada tahun 1995, untuk pertama kalinya kami diminta mengkoordinasi Tuguran pada Perayaan Kamis Putih di Gereja Katedral dan setiap tahun jumlah umat yang mengikuti tuguran Kamis Putih dengan Doa Meditasi Taizé kian meningkat.
Ketika Komunitas Taizé Indonesia mengadakan Pertemuan Taizé Nasional pada tahun 1999, Bandung diberi kesempatan untuk mengkoordinasi kegiatan tersebut. Ketika itu, Paroki Katedral St. Petrus menjadi pusat kegiatan. Acara pembukaan dan doa bersama selalu diadakan di Katedral, sedangkan doa kelompokkelompok kecil diadakan di paroki-paroki Bandung, Gereja Cibunut dan Gereja Kristen Jawa. Jumlah peserta waktu itu sekitar 400 orang yang terdiri dari umat Katolik (termasuk beberapa Romo) dan umat Kristen PGI. Mereka datang dari Jakarta, Bogor, Cirebon, Purwokerto, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Flores, dan Palembang.
Hingga menjelang pemugaran Balai Pertemuan komunitas Taizé Katedral masih tetap melakukan Doa Meditasi Taizé. Meski pesertanya tidak banyak hanya sekitar 10 – 15 orang namun kami cukup bangga karena ada salah satu aktivis Komunitas Taizé Katedral, yaitu Andre yang kini menjadi Bruder di Taizé, dan akhir tahun 2001, Fransiscus Nuria (Ncis) diutus ke Taizé selama 3 bulan atas undangan Komunitas Taizé Pusat. Di sana Fransiscus sempat menikmati kehidupan Komunitas Taizé Pusat dan menghadiri Pertemuan Komunitas Taizé se-dunia 2001 Kini, selain di Katedral, beberapa Paroki di Kota Bandung juga sudah secara rutin menyelenggarakan DMT, antara lain: Pandu, Sukajadi, Cicadas, dan Gandarusa.
Ketika Balai Pertemuan Katedral direnovasi, Komunitas Taizé Katedral kembali ke komunitas Induk di Providentia yang dikoordinasi oleh Sr. Be Kien Nio, OSU.

 

PDKK KATEDRAL

Cikal bakal Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Katedral diawali oleh kerinduan beberapa keluarga Katolik untuk berkumpul dalam persekutuan doa. Kelompok kecil ini mulai terbentuk pada bulan Maret 1980. Dalam kegiatannya, mereka memuji dan menyembah Tuhan dalam doa dan nyanyian, serta membaca dan mendengarkan Sabda Tuhan. Nama kelompok ini adalah Persekutuan Doa (PD) Biblica. Sejalan dengan waktu, umat yang tertarik untuk bergabung dengan persekutuan doa ini semakin banyak. Oleh sebab itu, pada bulan November 1984, PD Biblica secara resmi melangsungkan kegiatannya di Gereja Katedral St. Petrus atas persetujuan Pst. Sukarno, OSC dan diberi nama PDKK Katedral.

Saat itu, PDKK Katedral adalah persekutuan doa yang ketiga, selain PDKK Kamuning dan PDKK Pandu. Setiap kali mengadakan persekutuan doa, jumlah umat yang hadir dapat mencapai 100 – 150 orang. Sekarang, ketua PDKK Katedral adalah Bpk. S. Darmawan K., dan beliau adalah ketua yang kelima sejak berdirinya kelompok doa ini.
Kelompok ini sangat terbuka untuk bekerja sama dengan kelompok kategorial yang lainnya. Hal ini dibuktikan dengan terlibatnya beberapa aktivis PDKK Katedral dalam kelompok Prodiakon, Wanita Katolik, serta Tim Pendamping dan Wali Baptis/Krisma. Selain itu, mereka juga banyak membantu program DPP Katedral dan Panitia Pembangunan Sarana Gereja Katedral. Selain kegiatan rutin persekutuan doa, mereka juga mengadakan doa syafaat dan paduan suara untuk mengisi tugas dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral. Doa syafaat diadakan setiap hari Senin ditujukan untuk mendoakan Gereja dan Bangsa Indonesia. Persekutuan doa diadakan setiap hari Selasa yang sementara ini di selenggarakan di Aula UNPAR Jl. Merdeka, sambil menunggu selesainya pembangunan gedung kegiatan yang baru di Gereja Katedral.
Demikianlah, PDKK Katedral mau memuliakan Allah dengan ikut berperan serta membangun Gereja yang hidup dan menarik seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus.

 

MARIA KONGGREGASI

Maria Kongregasi adalah kelompok doa kaum awan yang melakukan devosi kepada Bunda Maria. Kelompok ini berkegiatan secara rutin setiap hari Senin ke-2 dan ke-4 pk. 16.00 wib di Gereja Katedral St. Petrus. Rangkaian acaranya dimulai dengan doa rosario atau jalan salib dan diakhiri dengan penghormatan Sakramen Mahakudus. Kegiatan tahunan yang secara rutin diadakan adalah Misa Novena Tiga Salam Maria antara bulan Mei dan Juni. Marilah bergabung bersama kami.

 

PWK SANTA MONIKA

PWK Santa Monika Cabang Katedral adalah kelompok kaum janda Katolik yang juga mau turut serta membangun komunitas iman. Pastor moderatornya adalah Pst. Yohanes Sutiman, OSC dan ketuanya adalah Ibu Anna Dharmosetyo. Kegiatan yang sudah biasa diadakan adalah perayaan Natal dan Paskah bersama, retret/rekoleksi, dan ceramah rohani.


Perayaan Paskah Lansia tahun 2002