Jejak Gereja Katedral St. Petrus

By david

Gereja Katedral St. Petrus, Bandung menyimpan banyak cerita menarik yang layak diungkapkan, terutama bagi umat Katolik yang belum sempat mengenalnya lebih jauh. Lebih dari sekedar bangunan yang memiliki arsitektur yang khas, Katedral ini ternyata menjadi saksi bisu tentang perjalanan panjang perkembangan umat Katolik di (Keuskupan) Bandung.


“Untuk kemuliaan Nama Tuhan yang lebih besar,
gereja ini diberkati atas nama Santo Petrus oleh

Uskup E.S. Luypen pada hari Minggu,
tanggal 19 Februari 1922

P.J.W. Muller, S.J., Pastor.
C.P. Wolff Schoemaker, Arsitek.
M. Kunst, Ahli Bangunan.”

Cerita ini dimulai sekitar tahun 1878, di mana saat itu Bandung sebagai ibukota karesidenan Priangan sudah cukup ramai, namun belum memiliki pelayanan umat Katolik sendiri. Untuk melayani umat, pastor didatangkan dari stasi terdekat, yaitu Cirebon yang berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia. Ketika jalur kereta api Batavia – Bandung dibuka pada tahun 1884 dan transportasi menjadi lebih mudah, pelayanan umat secara tetap di Bandung segera dipersiapkan. Maka, dibangunlah gereja pertama yang berukuran hanya 8 x 21 meter persegi dilengkapi sebuah pastoran di Schoolweg (kini Jalan Merdeka), berdekatan dengan gudang kopi milik Pemerintah Kolonial Belanda. Gereja ini diberi nama St. Franciscus Regis dan diberkati oleh Mgr. W. Staal pada tanggal 16 Juni 1895.

Pada tanggal 1 April 1906, Bandung memperoleh status Gemeente (setingkat kotamadya), sehingga berhak menyelenggarakan pengelolaan kota sendiri. Sejak saat itu, Kota Bandung mulai berbenah, antara lain dengan melaksanakan pengembangan permukiman kota untuk warga Belanda dan pembangunan kawasan pusat pemerintahan kotamadya (civic centre) berupa Gedung Balaikota berikut sebuah taman (kemudian disebut Pieterspark) tepat di lokasi bekas gudang kopi. Melengkapi civic centre ini, kelak dibangun berbagai bangunan publik di sekitar balaikota seperti sekolah, bank, kantor polisi, dan gereja, baik untuk umat Katolik maupun Protestan.

Pada tanggal 13 Februari 1907, pemerintah mengeluarkan keputusan untuk memisahkan Priangan, termasuk Kota Bandung, secara administratif dari Distrik Cirebon. Kota Bandung ditentukan sebagai sebuah stasi baru di Jawa Barat yang dipimpin Pastor J. Timmers dari Cirebon yang sudah 4 tahun menetap di Bandung.

Dalam penyelenggaraan gereja selama 4 tahun berikutnya ternyata jumlah jemaat semakin bertambah hingga mencapai 280 orang pada Perayaan Ekaristi. Saat itu, jumlah umat Katolik di Bandung sendiri telah mencapai 1800 orang. Maka Gereja St. Franciscus Regis pun diperluas karena tidak cukup lagi menampung jemaat yang semakin banyak. Setelah melalui beberapa alternatif dipilihlah sebuah lahan bekas peternakan di sebelah Timur Gereja St. Franciscus Regis, di Merpikaweg (kini jalan Merdeka), sebagai lokasi gereja baru. Perancangnya pun telah terpilih, yaitu Ir. C.P. Wolff Schoemaker, seorang arsitek berkebangsaan Belanda.

Pembangunan gedung gereja yang baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921. Setelah selesai, geraja yang baru itu diberkati oleh Mgr. Luypen pada tanggal 19 Februari 1922, dan dipersembahkan kepada Santo Petrus, yang merupakan nama permandian dari Pastor P.J.W. Muller, SJ. Pada hari itu juga, Mgr. Luypen meresmikan dan memberkati Pastoran Santo Petrus, yang saat itu termasuk Vikariat Batavia.

Gereja dan pastoran yang lama, Gereja St. Franciscus Regis, dijadikan gedung Perkumpulan Sosial Katolik. Dua tahun kemudian, diresmikan pendirian sebuah gedung sekolah Katolik untuk putra dengan nama St. Berchmans di Javastraat (sekarang Jalan Jawa), tepat di sebelah Timur Gereja St. Petrus. Sekarang bangunan sekolah itu digunakan oleh SD St. Yusup II.

Beberapa tahun kemudian rel kereta api dibangun tepat di sebelah Selatan kompleks gereja ini. Misa seringkali terganggu oleh deru kereta api, walaupun demikian, Gereja St. Petrus tetap dalam semangatnya melantunkan pujian Ilahi.

Pustaka: Buku Kenangan 80 Tahun Gereja Katedral St. Petrus – Bandung


 

 

Dari Stasi Menjadi Keuskupan

 

Empat tahun setelah Gereja St. Petrus didirikan, sebagian dari Vikariat Batavia, termasuk Bandung, dialihkan kepada Ordo Salib Suci. Tiga orang imam Salib Suci yang pertama adalah Prior J.H. Goumans, OSC sebagai misionaris superior (pemimpin misi) di Bandung, M. Nillesen, OSC, dan J. de Rooy, OSC.
Pelayanan di Bandung dikembangkan melalui sekolah, balai kesehatan, rumah sakit, dan rumah yatim piatu. Semakin hari pelayanan di Bandung dan sekitarnya semakin maju dan berkembang, maka pada tahun 1932 karya misi di Bandung dijadikan sebuah Prefektur Apostolik, yang kemudian ditingkatkan lagi menjadi Vikariat Apostolik pada tanggal 11 Februari 1942.

Kabar gembira ini datang di tengah-tengah situasi pecahnya Perang Dunia II yang juga melibatkan daerah kolonial Hindia Belanda. Kegairahan menyambut acara konsekrasi uskup berlangsung dalam bayang-bayang kekhawatiran peperangan, sehingga Mgr. J.H. Goumans dianjurkan berangkat ke Yogyakarta untuk menerima pentahbisan di sana, namun kemudian diperoleh kabar bahwa pentahbisan di Yogyakarta pun tidak dapat dilakukan, apalagi dengan pendudukan Jepang atas Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942.

Di tengah hambatan tersebut, Mgr J.H. Goumans mengabarkan kepada Mgr P. Willekens dan Mgr. A. Soegijapranata agar konsekrasi uskup dapat diadakan di Gereja St. Petrus Bandung pada tanggal 22 April 1942. Rencana ini segera beredar dari mulut ke mulut dan kemudian, walaupun tidak dilakukan dengan perayaan besar dan dokumentasi foto, acara ini tidak mengalami hambatan yang berarti.

Gereja sempat mengalami masa-masa sulit ketika sebagian besar misionaris yang berkebangsaan Belanda harus masuk kamp tawanan Jepang. Mereka dapat kembali bertugas setelah Jepang kalah perang dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Pada suatu hari di tahun 1950, ketika sedang mengajar, Mgr. J.H. Goumans, OSC mendapat serangan jantung dan harus masuk Rumah Sakit St. Borromeus. Karena kesehatannya tidak bertambah baik beliau harus meninggalkan Indonesia. Satu tahun kemudian beliau mohon berhenti sebagai Vikaris Apostolik Bandung, yang dikabulkan oleh Paus Pius XI. Maka, Tahta Suci Roma mengangkat Mgr. P.M. Arntz, OSC Superior yang baru, sebagai Vikaris Apostolik yang menggantikan beliau.

Tanggal 3 Januari 1961 adalah tonggak sejarah baru bagi Gereja Katolik Indonesia, di mana saat itu Vikariat Apostolik Bandung ditingkatkan menjadi Diosis atau Keuskupan. Sejak saat itu, Mgr. P.M. Arntz sungguh-sungguh menjadi Uskup Bandung, tidak lagi ditempeli nama keuskupan lain. Dalam pengangkatannya, sekaligus disebutkan pula katedralnya, yaitu Gereja St. Petrus, Bandung.

Kata ‘katedral’ berasal dari kata ‘cathedra’ (Bahasa Latin: tahta untuk menyebut tahta uskup). Cathedra adalah lambang kewenangan seorang uskup atas diosisnya. Tahta ini diletakkan di suatu gereja yang terpilih sebagai gereja utama dalam suatu diosis, yang kemudian disebut gereja katedral atau katedral saja. Saat ini, Tahta Uskup Bandung diletakkan di dalam panti imam, bersandar di dinding Utara, Gereja Katedral St. Petrus, Bandung.

Pustaka: Ziarah Arsitektural Katedral St. Petrus Bandung